NewsOpini

Klinik Syifa Medica IAIN Surakarta Kudu Sehat

Ilustrasi oleh Ahmad Fatih Mamduh

Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian.

Virus ini mampu menyerang semua orang. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, lansia, ibu hamil, sampai ibu menyusui bisa berpotensi terserang virus ini. Penularannya juga beragam, mulai dari menghirup percikan ludah dari bersin atau batuk penderita COVID-19, memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan setelah menyentuh benda yang sedang tertempel COVID-19, hingga kontak jarak dekat dengan penderita COVID-19.

Adanya virus ini menyebabkan kebutuhan akan fasilitas (barang dan jasa) kesehatan bagi masyarakat meningkat. Baik di kalangan pekerja, bos, maupun mahasiswa, semua butuh yang namanya kesehatan dan keamanan supaya terhindar dari virus corona. Masyarakat berlomba-lomba beli masker, hand sanitizer, tak terkecuali melakukan tes kesehatan sebagai upaya masyarakat mengamankan dirinya dari Virus Corona.

Tes kesehatan menjadi penting karena ini tahap yang sangat awal sekali. Harapannya, Dokter dan Perawat benar-benar melayani masyarakat serta tanggap dalam mengantisipasi penyebaran virus corona mulai dari tingkatan paling kecil (keluarga) hingga tingkat nasional (negara). Pentingnya peran tenaga medis dalam mengawal kesehatan dan menentukan langkah-langkah medis yang harus dilakukan masyarakat, menyebabkan (pastinya) ‘orderan’ tes kesehatan dari banyak masyarakat. Tak terkecuali bagi Habib, seorang mahasiswa tingkat akhir IAIN Surakarta yang ‘terjebak’ wabah virus Corona di Kartasura. Seperti yang kita tau, Kartasura merupakan salah satu ‘zona merah’ bagian Solo Raya.

Bukan tanpa alasan Habib memeriksakan dirinya ke Klinik Syifa Medica IAIN Surakarta yang ada di lingkungan IAIN Surakarta. Pertama, kesibukan Habib yang padat dan urgent, menyebabkan Habib harus sering keluar rumah. Apalagi Habib telah melakukan perjalanan jauh dari Jakarta karena adanya urusan yang tak bisa diwakilkan. Seperti yang kita tahu, penyebaran Virus Corona di Jakarta sangat tinggi. Kekhawatiran Habib akan Virus Corona yang menyerang Indonesia, membulatkan tekadnya untuk memeriksakan dirinya sedini mungkin agar terhindar dari Virus Corona. Apalagi, Habib adalah salah satu stakeholder organisasi yang pastinya akan sering dicari dan bersinggungan oleh banyak anggota organisasinya. Kedua, kesadaran akan mencegah penyebaran Virus Corona. Karena Habib akan sering bersinggungan dengan banyak orang, dia ingin memastikan bahwa dirinya terbebas dari corona agar penularan virus bisa terminimalisir (minimal) dalam organisasi dan dari lingkungan terdekatnya. Ketiga, Habib memanfaatkan fasilitas kesehatan yang disediakan kampusnya. Ditambah lagi akses yang terjangkau, menyebabkan Habib ingin memeriksakan dirinya di fasilitas kesehatan yang disediakan ‘cuma-cuma’ dari kampusnya. Seperti kata bapak Rektor IAIN Surakarta “Klinik Syifa Medica IAIN Surakarta hadir untuk memberi pelayanan kesehatan kepada keluarga besar IAIN Surakarta meliputi dosen, karyawan dan mahasiswa.” Seperti itulah sambutan Rektor IAIN Surakarta saat peresmian Klinik Syifa Medica IAIN Surakarta. Ditambah lagi oleh dr. Nafiuddin Mahfudz, Sp PD., M.Kes bahwa “Klinik ini adalah klinik milik keluarga besar IAIN Surakarta yang diperuntukkan bagi mahasiswa, dosen dan karyawan. Kami sama sekali tidak memungut biaya. Pemberian obat pun juga gratis sesuai dengan ketersediaan obat yang ada di apotek”. Itulah sebab mengapa Habib mau memeriksakan kesehatan dirinya ke Klinik Syifa Medica IAIN Surakarta.

Tanggal 20 maret 2020, Habib mencoba memeriksakan kesehatannya di Klinik Syifa Medica IAIN Surakarta. Hanya sekitar lima menit perjalanan dari tempat tinggal Habib ke klinik tersebut. Sesampainya Habib di klinik— di bayangan Habib dia akan mendapatkan fasilitas (barang dan jasa) kesehatan serta mendapatkan ‘siraman rohani’ dari dokter terkait kesehatannya dan terkait pencegahan Virus Corona. Tapi sebagus-bagusnya angan, tetaplah hanya angan. —terdapat tiga dokter yang (menurut dia) siap memfasilitasi kesehatannya sebagai mahasiswa IAIN Surakarta. Habib sampaikan kepentingannya kepada dokter-dokter klinik tersebut bahwasannya Habib ingin memeriksakan kesehatannya. Belum sempat Habib sampaikan mengapa dia harus periksa, salah satu dokter yang ada— menurut Habib yang lebih tua diantara yang lain —seketika menolak permintaan dari Habib. Dokter pun menambahi lagi dengan nada penolakan “mau apa cek kesehatan?” dijawablah oleh Habib dengan sabar bahwa “saya ingin mengetahui kesehatan saya dan minta bukti (surat kesehatan) kalau saya ini sehat”. Kali ini dokter yang ada menjawab respon Habib dengan nada tinggi “buat apa minta surat kesehatan!? Kita (dokter) aja kalo gak ada urusan keluar gak akan keluar”. Habib menjawab “buat jaga-jaga kalau seandainya saya terpaksa harus keluar, dan yang terpenting saya ingin memeriksa kesehatan saya”. Dokter yang adapun tetap menjawab dengan nada tinginya “Nggak Boleh!”. Habib tak ingin memperlama perdebatan, karena semakin lama dia berdebat semakin lama juga ia kontak dengan orang lain dan berpotensi terserang Virus Corona. Dia akhirnya meninggalkan klinik dan kembali mengamankan dirinya di tempat tinggalnya.

Pemaparan tentang keberadaan Klinik Syifa Medica IAIN Surakarta dan laporan dari Habib sangatlah berlawanan. Dimana Habib yang masih mahasiswa aktif IAIN Surakarta harus ‘ngalah’ dengan penolakan dokter Klinik Syifa Medica IAIN Surakarta untuk memeriksa kesehatannya. Sebab mengapa Habib ditolak untuk periksa di klinik tersebutpun juga masih samar. Jika memang Habib ditolak karena ingin meminta Surat Kesehatan itu tak masalah. Tetapi, menolak seorang pasien yang hendak memeriksakan kesehatannya adalah bentuk kesalahan besar. Apalagi adanya klinik itu adalah sebagai bentuk pemberian jaminan dan fasilitas kesehatan bagi warga IAIN Surakarta. Namun dari kasus Habib, Klinik Syifa Medica IAIN Surakarta menjadi ‘perampok’ kesehatan warga IAIN Surakarta karena menolak seorang warga IAIN Surkarta untuk memeriksakan kesehatannya di Klinik Syifa Medica IAIN Surakarta. Seandainya Habib yang ditolak periksa di Klinik Syifa Medica IAIN Surakarta terjangkit Virus Corona atau penyakit menular lain. Kemudian Habib berinteraksi dengan orang lain di IAIN Surakarta. Bisa bayangkan apa yang terjadi? Exactly! Penyebaran dan penularan virus corona dan/atau penyakit lain akan terjadi di IAIN Surakarta. Lantas dimana letak jaminan kesehatan bagi warga dan lingkungan IAIN Surakarta jika akses kesehatan dilimitasi? Dan yang paling ekstrim, buat apa ada Klinik Syifa Medica IAIN Surakarta kalau akses kesehatan terbatas dan tidak untuk semua warga IAIN Surakarta?

Di tengah badai Virus Corona yang sedang melanda, jangan salahkan warga IAIN Surakarta jika ‘merepotkan’ tenaga medis Syifa Medica. Ini toh juga upaya kita Bersama melimitasi penyebaran Virus Corona dan/atau penyakit lainnya. Memang benar, bapak, ibu, tenaga medis Syifa Medica lebih tau tentang penyakit-penyakit dan penularannya, tapi, kita warga IAIN Surakarta kan gak semua bisa tau sedetail bapak ibu tenaga medis. Makanya kita minta tolong perihal kesehatan dan penyakit apapun ke jenengan (tenaga medis Syifa Medica). Gak mungkin ada yang masuk Klinik Syifa Medica buat main poker atau maling helm. Pasti urusannya gak jauh dari kesehatan, penyakit dan obat. Jadi, tanggapi kita sebagai pasien lah, bukan sebagai orang jahat.

Untuk Bapak Rektor, tolonglah, konsistensi kebijakan itu penting pak. Kalau bapak sudah memutuskan social distancing di lingkungan IAIN Surakarta sebagai upaya mencegah penyebaran Virus Corona di IAIN Surakarta, Bapak juga jangan lupa manfaatkan segala bentuk fasilitas kampus yang bisa digunakan untuk menangkal Virus Corona dan/atau penyakit menular lainnya, sebagai bentuk jaminan kesehatan kampus bagi seluruh warga dan Lingkungan IAIN Surakarta. Lagi, jangan lupa juga pak, dikontrol berjalannya setiap kebijakan. Biar standarisasinya jelas. Untuk Bapak Rektor itu dulu deh, nanti ada kok edisi khusus buat bapak. Selow! Pokoknya tolong lah pak. Kepada bapak kan kita berhak sambat?

Terakhir, ini ditulis karena keprihatinan pribadi penulis akan sikap dari tenaga medis Syifa Medica IAIN Surakarta yang sangat berani menolak seorang pasien. Harapannya lewat tulisan ini, gak ada lagi yang bakal ditolak. Ditolak cinta sama doi aja deh, ditolak periksa, jangan!

Penulis: Ahmad Fatih Mamduh (Kontributor Solo Raya)

Selengkapnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button