NasionalNews

Cabuli Santriwati, Anak Kiai Di Jombang Jadi DPO

(Sumber: Pexels)

GOKLIK.CO — Salah satu anak kyai di Jombang, Jawa Timur sedang hangat diperbincangkan oleh masyarakat lantaran kasus yang menjeratnya. Belakangan diketahui ia berinisial, MSA (40). MSA terjerat kasus pencabulan terhadap santriwati pondok pesantren dan juga sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Dilansir Kompas.com, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Gatot Repli Handoko membenarkan ada penyidik dari Polda Jatim datang mengantar surat panggilan untuk tersangka MSA.

Pihak kepolisian mendatangi Komplek Pesantren Shiddiqiyah, Jombang, bermaksud untuk mengantarkan surat panggilan untuk MSA. Namun kedatangan polisi tersenut justru diadang oleh sejumlah orang, para santri ponpes di antaranya. Bahkan massa yang berkerumun beeberapa kali melantunkan bacaan “Ya Jabbar, Ya Qohar”, Kamis (13/1).

Menurut Kombes Gatot, pemanggilan tersebut merupakan panggilan kedua. Penyidik juga batal bertemu MSA lantaran ia tak ada di lokasi. Pihaknya berharap MSA bersikap kooperatif dengan proses hukum yang ada.

“Video itu Kamis siang. Penyidik mengantar surat panggilan tapi yang bersangkutan (MSA) tidak ada di tempat,” ujarnya.

Berkas kasus pencabulan dengan tersangka MSA diketahui sudah di nyatakan lengkap atau P21 oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur sejak Selasa (4/1/2022). Kejati Jawa Timur menunggu penyidik polisi menyerahkan berkas perkara sekaligus tersangka MSA kepada penyidik kejaksaan untuk proses selanjutnya.

Sah Jadi Tersangka Sejak 2021

MSA juga di ketahui telah dilaporkan ke polisi pada 29 Oktober 2019 oleh korban berinisial NA, salah seorang santriwati asal Jawa Tengah usai diduga melakukan pencabulan terhadapnya.

Pada Januari 2020 Polda Jatim mengambil alih kasus tersebut. Data lapangan yang diperoleh MSA beberapa kali mangkir saat di panggil untuk di periksa bahkan polisi gagal menemui MSA saat akan diperiksa di lingkungan pesantren yang ia tempati.

MSA juga sempat mengajukan Praperadilan ke Pengadilan Negeri Surabaya dengan tergugat Kapolda Jawa Timur untuk meminta kepastian hukum atas status hukumnya yang suda dua tahun mangkrak. Namun permohonannya di tolak majelis hakim.

Di kutip dari Surya.co.id, Hakim Pengadilan Negeri Surabaya menolak gugatan anak kyai Jombang bernama Much Subchi Azal Tzani (MSAT,40).

Hakim tunggal Martin Ginting yang mengadili gugatan Praperadilan menolak gugatan MSAT kepada Kapolda Jatim.

Dengan di tolaknya gugatan tersebut, hakim menyatakan status MSAT sebagai tersangka pencabulan terhadap santriwatinya sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh pihak kepolisian dinyatakan sah.

  Dalam putusan hakim, Martin Ginting menyebut bahwa Praperadilan yang diajukan MSAT terhadap penyidik Polda Jatim dan Jaksa Peneliti dari Kejati Jawa Timur tidak dapat di terima karena cacat formil. Untuk itu, hakim Martin Ginting pun memutuskan bahwa permohonan Praperadilan tersebut Niet Ontvankelijke Verklaard atau yang seringkali disebut sebagai putusan NO atau kurang pihak.

Hakim Martin Ginting mengatakan bahwa “penyidikan awal perkara ini dan yang menetapkan sebagai Tersangka adalah penyidik Polres Jombang kemudian di tangani Polda Jatim,”.

“Tapi tanggungjawab tetap pada penyidik Polres Jombang, karena yang menetapkan tersangka adalah Polres Jombang, makanya harusnya di tarik sebagai pihak termohon,” tandasnya usai di konfirmasi setelah sidang, Kamis (16/12/2021).

Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afianta di katakan sampai mendatangi pihak kepolisian untuk mempertanyakan soal proses hukum.

Di kutip dari Surya.co.id, Nico juga mengaku sangat terpukul melihat lima korban yang terus menanyakan kejelasan kasus pelecehan yang di alaminya, karena mereka menganggap polisi kurang tanggap dalam merespons kasus tersebut sehingga memakan waktu sampai 2 tahun lebih.

“Bisa dibayangkan bagaimana kondisi korban yang mendatangi kepolisian mempertanyakan berkali-kali, pak bagaimana pak kasus kami. Kami sudah dilecehkan dan sudah ada 5 korban, kok polisi gak maju-maju,” ucapnya.

“Nah hal ini yang kami komunikasikan terus, bukti kami lengkapi supaya apa yang di laporkan terpenuhi alat buktinya. Sehingga Insyaallah dapat di sidangkan dan pelaku dapat di proses secara hukum sesuai ketentuan yang berlaku,” imbuhnya.

Atas pertanyaan perkembangan kasus pelecehan seksual itu, Kapolda Jatim mengajak semua elemen bekerja sama untuk mengumpulkan bukti-bukti agar terpenuhi dan mempercepat proses penyidikan sehingga dapat di limpahkan ke kejaksaan.

Sesumbar Tak Bisa Ditangkap Polisi

MSA mengaku dirinya merupakan korban fitnah oleh Polres Jombang dan Pemerintah Kabupaten Jombang, seusai ditetapkan sebagai tersangka pencabulan. Ia juga sempat sesumbar di sosial media dengan sebuah pernyataan yang di unggah di akun Instagram miliknya dengan username Andeweazallosplos. Yang berbunyi :

“Lagi bertanding Badminton dengan Penguasa Jombang, tapi gak asyik tu Polres mosok(masa) keroyokan gitu….semua org(orang) bisa kalau maen2(main main) fitnah keji dan keroyokan,” unggahnya

“Malu sama baju coklatmu hai Kapolres Jombang. Malu sama baju Bupatimu hai pemerintah Jombang. Isin2iii (malu maluin) keroyokan,” imbunya

“Gua masih disini tempat! Losplos city of angel. Gak kemana mana tuaan..Tinggal ambil aja kan beres..itupun kalo (kalau) mampu (emoticon melet) tak tunggu di losplos tuan penguasa Jombang” lanjutnya.

“Ta tagnya sekalian wak presiden jokowu @jokowi monggo wak presiden kalo (kalau) mau ikutan tanding badminton sama anak buah sampean Polres dan Pemkab Jombang Bupati sa wakile,” tantangnya.

Di kutip dari Surya.co.id, dalam unggahan tersebut tampak MSA menyebut polisi tak mampu menangkapnya. Bahkan dalam unggahannya MSA turut serta menyematkan akun instagram Presiden Jokowi dalam salah satu mentionnya.

Kontributor : Dida Kurniawan

Selengkapnya

Artikel Terkait

Back to top button