CelotehNewsOpini

BUMI KASIRATAN : Satire Politik Pertiwi


“Semegah-megahnya sebuah angan, dia tetaplah angan”


Sejarah sudah membuktikan harta dan tahta menjadi momok yang mencekik keadilan. Itulah yang akan menghambat segala bentuk idealisme manusia dan beranjak menjadi beringas saat menjadikan kelemahan sebagai tujuan hidupnya.
Teater Sirat, malam hari ini (28/11) mengolah sebuah nuansa klasik kerajaan jawa dengan bumbu-bumbu yang sebenarnya sudah sering kita temui di sekitar kita atau mungkin di dalam buku-buku sejarah kerajaan khususnya Jawa.
Mengolah nuansa klasik sebenarnya akan mempermudah penonton menebak kondisi-kondisi cerita yang coba dibangun. Karena cerita yang dibangun sudah sangat familiar bagi para penonton. Tapi itu tidak terbukti, Teater dengan Logo tanda tanya terbalik itu berhasil membuat penonton miss dalam menebak cerita yang ingin disajikan. Teater Sirat berhasil membawa spirit anak muda, yaitu menjadikan sejarah sebagai masa lalu yang tak perlu ditiru. Tapi tetap berjalan maju menghadapi segala rintangan baru. Walaupun ada sedikit kekurangan dalam keaktoran tapi teater sirat membuktikan bahwa teater bukan hanya perihal 1 aktor/aktris tapi tentang cerita dan pesan.
Satire dalam pementasan ini sangat kentara. Sinuwun Bumi Kasiratan tidak bisa menjaga kesetaraan ekonomi di kerajaannya menyebabkan rakyat jengah dan ingin menurunkan raja, maka terjadilah perang saudara di Bumi yang kaya raya itu dan sinuwun Bumi Kasiratan Terbunuh. Itu adalah sindiran dari Teater Sirat bahwa kemerdekaan dan kesejahteraan adalah jaminan yang harus diperoleh rakyat saat rakyat sudah terlanjur mempercayai seseorang menjadi pemimpinnya. Jangan cuma mendengarkan permintaan kolega dan sanak saudara saja, tapi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Belum lagi ketika melihat perseteruan sesama keluarga yang terjadi di dalam tubuh istana, membuat kerajaan bukan menjadi pembuktian pengabdian dan pelindung bagi rakyat, tapi hanya tempat untuk bagi-bagi jatah keenakan yang bisa diberikan oleh raja. Sama halnya yang terjadi, semua orang berusaha baik agar diterima sebagai bagian di pemerintah supaya bisa dapat jatah dan bagian proyek untuk kepentingan pribadi dan kembali mencekik rakyat sendiri.
Teater Sirat benar-benar berhasil mengajak kita meresapi ancaman yang akan terjadi jika kita hanya diam melihat segala bentuk ketidakadilan. Satire yang elegan dan nuansa komedi khasnya Teater Sirat sangat memukau. Bukan apa yang ingin kita sampaikan, Tapi bagaimana kita menyampaikan.
Begitulah rangkuman ini dibuat. bentuk ikhtiar ketjil apresiasi saya yang setinggi langit untuk Teater Sirat. sukses terus Teater Sirat.

“Ini adalah Balasan Surat Kerajaan Dari Kalurahan Mutasi. Mugi Tansah Pinaringan Kawilujengan”

Sinuwun Lurah Mutasi

Penulis : Ahmad Fatih Mamduh

Selengkapnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button